RSS

Jadi Pejabat?

15 Jan

Akhir-akhir ini media dihiasi berita tentang skandal nasional. Skandal Bank Century lagi happening soalnya rapat pansus dengan manggil beberapa saksi yang merupakan pejabat negara masih aktif. Ada juga berita tentang perlakuan istimewa bagi narapidana orang kaya di Rutan Pondok Bambu. Berita tentang sidangnya Antasari Azhar masih lumayan sering sliwar-sliwer di tipi dan koran.

Kalo saya amatin tren sekarang adalah ngusut kasus korupsi dan segala macem derivatifnya. Yang dijadiin tersangka (biasanya awalnya mereka jadi saksi dulu) adalah para pejabat negara yang dah lengser. Ada juga pejabat atow lebih tepatnya bos-bos dari perusahaan swasta.

Saya jadi agak merinding disko tentang kasus dana bailout  Bank Century ini. Merindingnya gini, gimana seandenya Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani dinonaktifkan dari jabatannya sekarang? Bisa-bisa terjadi vacuum of power yang cukup lama (walopun saya yakin pasti banyak tuntutan untuk segera ngisi posisi pejabat yang kosong).

Eniwei yang pengen saya omongin di sini bukan tentang kasusnya. Saya mah suka ngikuti beritanya aja. Saya cuma punya little thoughts ajah mengenai profesi pejabat. Loh, emang ada profesi yang namanya pejabat? Wekekeke ga ada tuh. Pokoknya saya pengen ngebahas sedikit banyak tentang pejabat (baek negara mopun pejabat di perusahaan swasta/BUMN).

Ga sedikit pejabat-pejabat sekarang dulunya cuman orang biasa, bahkan orang miskin. Karena mreka pinter, nasibnya bagus, dsb bisa lah meraih pendidikan dan karir yang bagus. Begitu jadi pejabat, banyak orang yang langsung ‘tunduk’ ama mreka.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin tinggi juga godaannya kan. Konon ada ungkapan yang bilang kelemahan pria adalah harta, tahta, dan wanita. Kebetulan selama ini pejabat yang kena kasus kan berjenis kelamin laki-laki. *Kalo pejabat wanita godaannya apa hayooo?* ga heran kalo pejabat banyak yang ‘jatuh’ karna tiga hal itu.

Kalo ada pejabat yang ‘jatuh’ gitu saya slalu kasian ama keluarganya. Emang siy bisa jadi keluarganya jadi ‘motivasi’ melakukan korupsi. Ujung-ujungnya kan kalo ketauan, keluarganya ikutan nanggung malu. Kalo masih punya duit siy mending. Nah, kalo jadinya bangkrut dan miskin gimana sekolahnya anak-anaknya? Belom lagi, kalo ketauan punya selir-selir laen, gimana pertanggungjawaban terhadap ‘Sephia’ nya itu ama anak hasil biologisnya *kalow ada*?

Pihak di luar pejabat-pejabat yang kena kasus, banyak yang ngelawan. Entah motif politis apa aja yang mendorong, yang jelas banyak lawannya. Mungkin lawan-lawan ini mo jadi pejabat juga kali yah.

Ada juga para mahasiswa dan aktivis yang suka demoin pemerintah. Mreka seiring dengan pertambahan usia, pasti masuk juga ke dunia kerja sesungguhnya. Awalnya pasti kan mreka idealis. Ga sedikit juga mreka yang masuk ke lingkungan ‘strategis’ ga suka gaya bos-bosnya yang cenderung ‘ode baru’.

Kalo gitu pilihannya cuman dua. Yang pertama, kalo ga tahan ama ‘kepanasan’ yah cabut ajah. Bagi mreka yang bener-bener ga kuat pasti yakin rejekinya bisa dicari di tempat laen. Kedua, bertahan di dalem lingkungan itu. Bertahan ini kemungkinannya juga dua. Mreka bisa bertahan tapi akhirnya ikutan ‘arus’ juga atow bertahan tapi ga ikut-ikutan arus. Yang terakhir ini berarti ada resiko dibenci, dikucilkan, dan ga bakal/sulit promosi.

Saya jadi inget temen-temen saya yang berkarir di lingkungan pemerintahan mopun swasta. Saya yakin ada beberapa dari mreka karirnya pasti ada yang berkembang cepat. Apakah suatu saat mreka juga bakal ngikuti jejak seniornya yang terseret di meja ijo? Moga-moga ga.

Yah gitu lah sulitnya berkarir, apalagi yang ada hubungannya ama negara dan kepentingan politis. Setiap orang punya pilihan. Gimana dengan Anda, mau ga jadi pejabat dengan resiko kek gitu?

 
2 Comments

Posted by on January 15, 2010 in happening, office, thoughts

 

2 responses to “Jadi Pejabat?

  1. Allhands

    January 18, 2010 at 12:33 pm

    Ketika kita jadi pejabat di suatu tempat —terlepas dari kita orang dalam atau “pendatang”—, hal pertama yang harus dilakukan adalah pelajari situasi di dalam. Siapa yang maling, siapa yang lurus, siapa yang suka ambil hati dll. “Kecelakaan” yang selama ini banyak timpa pejabat “pendatang” antara lain karena nggak ada situational awareness itu.
    Terus, pejabat sering nggak sadar dimanfaatin oleh orang dekatnya. Misalnya kasus eks menteri di Merdeka Timur yang masuk penjara karena korupsi. Itu sebenarnya yang nikmati korupsi adalah orang-orang dekatnya.
    Yang paling utama jadi pejabat itu adalah jaga integritas. Kalo sudah bisa dibeli sama Anggodo cs, yah artinya sudah nggak punya harga diri. Apalagi yang dipunyai oleh manusia kalau bukan harga diri ???
    Soal harga diri, kehormatan, sirri ini yang nggak dipunyai oleh mayoritas pejabat saat ini di negeri ini, Win….
    Amo metti, ko purai rede, de mari gaga…

     
  2. galihsatria

    January 19, 2010 at 2:38 pm

    Menjabat sebuah posisi buat saya adalah sebuah kepercayaan. Jika memang dipercaya, kenapa tidak? Saya pikir, “amanah” adalah sebuah kata yang harus dijadikan awalan dan bukan hanya pemanis bibir saja.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: